Gagak Hitam News
GAGAK HITAM
—   N E W S   —
Memuat

Sudah Ada yang Gratis, Mengapa BGN Bangun Lagi yang Berbayar? Anggaran Aplikasi MBG Jadi Sorotan di Tengah Dugaan Korupsi

Fazlur Rahman
03 Juni 2026
22.39 WIB
33 dibaca
Sudah Ada yang Gratis, Mengapa BGN Bangun Lagi yang Berbayar? Anggaran Aplikasi MBG Jadi Sorotan di Tengah Dugaan Korupsi

JAKARTA – Dugaan korupsi yang menyeret program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membuka pembahasan mengenai tata kelola anggaran, tetapi juga memunculkan sorotan terhadap sejumlah proyek pendukung yang dibiayai negara. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah pengembangan aplikasi Reviu Menu MBG yang disebut memiliki nilai anggaran besar.

Perhatian publik mengarah pada fungsi aplikasi tersebut yang pada dasarnya digunakan untuk menghimpun penilaian penerima manfaat terhadap makanan yang diterima serta menjadi sarana pelaporan kualitas menu di lapangan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, muncul pertanyaan mengenai urgensi pembangunan sistem baru dengan biaya besar untuk fungsi yang dinilai relatif sederhana.

Mengutip Tempo, aplikasi Reviu Menu MBG diperkenalkan sebagai instrumen yang memungkinkan masyarakat memberikan penilaian terhadap kualitas makanan yang diterima melalui program MBG. Sistem tersebut juga dirancang sebagai bagian dari mekanisme pengawasan agar kualitas layanan tetap terjaga.

Namun, pembahasan publik berkembang bukan hanya mengenai fungsi aplikasi, melainkan juga terkait besarnya anggaran yang dikaitkan dengan pengembangannya. Perhatian kemudian mengarah pada efisiensi penggunaan dana negara, transparansi pengadaan, serta kebutuhan riil pembangunan sistem tersebut.

Sorotan semakin kuat setelah diketahui bahwa sebelumnya telah tersedia platform pengawasan digital lain yang dikembangkan tanpa menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Aplikasi “Jaga Dapur MBG” merupakan inisiatif yang dikembangkan oleh Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) bersama Kejaksaan Agung Republik Indonesia sebagai sarana pengawasan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Sistem tersebut diperkenalkan untuk membantu masyarakat dan berbagai pihak terkait dalam melakukan pemantauan pelaksanaan MBG di lapangan.

Keberadaan aplikasi tersebut menjadi bahan diskusi karena dikembangkan tanpa menggunakan pembiayaan dari APBN. Dalam peluncurannya, sejumlah pemangku kepentingan turut hadir, termasuk perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pengawasan program MBG.

Di sisi lain, BGN juga memperkenalkan aplikasi Reviu Menu MBG yang memiliki fungsi pengumpulan umpan balik masyarakat terhadap kualitas makanan yang diterima. Mengutip Kompas.com, Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menyampaikan bahwa aplikasi tersebut dirancang agar penerima manfaat dapat berpartisipasi langsung dalam pengawasan kualitas layanan dan mutu makanan yang disalurkan.

Keberadaan dua sistem yang sama-sama berkaitan dengan pengawasan program MBG kemudian memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas integrasi teknologi yang digunakan pemerintah. Sejumlah warganet mempertanyakan mengapa diperlukan pembangunan aplikasi baru dengan nilai anggaran yang besar apabila telah tersedia sistem pengawasan digital yang diklaim dapat digunakan tanpa membebani APBN.

Perdebatan tersebut semakin mengemuka karena fungsi dasar kedua aplikasi dinilai memiliki irisan yang cukup dekat, yakni pengumpulan laporan lapangan, pemantauan pelaksanaan program, serta penyampaian umpan balik dari masyarakat sebagai penerima manfaat.

Meski demikian, hingga kini belum terdapat penjelasan rinci yang dipublikasikan secara luas mengenai perbedaan mendasar antara kedua platform tersebut dari sisi cakupan layanan, kompleksitas sistem, kebutuhan infrastruktur, maupun komponen biaya pengembangannya.

Dalam proyek teknologi informasi pemerintah, besarnya anggaran umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengembangan perangkat lunak, keamanan data, integrasi dengan sistem nasional, kapasitas server, pemeliharaan, hingga dukungan operasional jangka panjang. Namun ketika nilai anggaran yang digunakan mencapai angka yang signifikan, tuntutan transparansi dari publik menjadi hal yang tidak dapat dihindari.

Situasi tersebut menjadi semakin sensitif karena muncul bersamaan dengan penyelidikan dugaan korupsi yang menyeret program MBG. Sorotan masyarakat tidak lagi hanya tertuju pada dugaan penyimpangan anggaran secara umum, tetapi juga pada berbagai proyek pendukung yang dibiayai negara, termasuk proyek digitalisasi yang menjadi bagian dari pelaksanaan program tersebut.

Pengamat tata kelola publik menilai bahwa digitalisasi memang merupakan kebutuhan penting dalam program berskala nasional yang melibatkan jutaan penerima manfaat. Namun, setiap investasi teknologi tetap harus dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme yang transparan, efisien, dan memberikan manfaat yang jelas bagi masyarakat.

Karena itu, diskusi mengenai aplikasi Reviu Menu MBG tidak lagi sekadar membahas teknologi yang digunakan. Perhatian publik kini mengarah pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apakah pembangunan sistem baru dengan anggaran besar benar-benar menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh platform yang telah tersedia sebelumnya.

Di tengah meningkatnya tuntutan akuntabilitas terhadap pengelolaan program MBG, keterbukaan informasi mengenai proses pengadaan, rincian biaya, serta alasan pembangunan aplikasi baru diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama perhatian masyarakat. Semakin besar dana publik yang digunakan, semakin besar pula harapan agar setiap rupiah yang dibelanjakan dapat dijelaskan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.


Tag

Memuat tag berita...